Kamis, 20 Oktober 2016

ARIF RAHMAN, MAHASISWA UI YANG TEWAS DITEMBAK SAAT DEMONSTRASI



Tulisan ini disusun penulis untuk mempertahankan kenangan terhadap Arief Rahman Hakim - Pahlawan Ampera. Banyak pihak berusaha menghapuskan kematian Arief Rahman Hakim yang telah menjadi martir dalam sejarah bangsa Indonesia. Saat ini untuk mendapatkan foto Arief Rahman Hakim pun sudah sulit. Penulis mengharapkan tulisan ini dapat menjadi suatu catatan yang dapat dimanfaatkan oleh semua pihak dalam mengungkapkan peristiwa gugurnya Arief Rahman Hakim.


Peristiwa yang terjadi setengah abad yang lalu pada waktu mahasiswa dan pelajar berjuang menumbangkan rejim pemerintah orde lama sudah terlupakan. Nama Arief Rahman Hakim pahlawan Ampera sudah terlupakan. Banyak orang sudah tidak lagi mengenal Arief Rahman Hakim sang Pahlawan Ampera.  Saat gugurnya Arif Rahman Hakim dan beberapa pahlawan Ampera lainnya gugur sudah  terlupakan. Tahun 1965 - 1966 merupakan pada masa ekonomi yang sulit dan kejadian gugurnya Arief Rahman Hakim adalah   pada bulan Januari 1966,manakala inflasi mencapai 650%  dan terjadi pada saat Bung Karno menaikkan harga bensin empat kali lipat menjadi Rp. 1000 per liter. Harga beras semakin tak terkendali padahal Indonesia adalah negara penghasil beras.

Di Jakarta, harga beras yang semula Rp. 800 per kilogram mendadak melonjak menjadi Rp. 5000 per kilogram. Kondisi politik waktu itu sudah semakin rapuh dengan semakin tidak puasnya masyarakat terhadap bertahannya sang Proklamator sebagai Presiden RI setelah kudeta yang gagal pada tanggal 30 September 1965 dan juga dinilai gagal mengendalikan perekonomian.


Sehingga pada tanggal 10 Januari 1966, merupakan puncak atas kesabaran mahasiswa dan masyarakat sehingga mahasiswa meleteuskan aksi demonstrasi di Jakarta, sebagai sikap penentangan terhadap kenaikan harga-harga. Demonstrasi ini melahirkan Tri Tuntutan Rakyat yang kemudian dikenal sebagai Tritura. Tiga tuntutan itu meliputi: Bubarkan PKI, Retul Kabinet Dwikora dan Turunkan Harga.


Tanggal 24 Februari 1966,  Presiden Soekarno bermaksud melantik menteri kabinet baru yaitu "Kabinet Seratus Menteri yang personilnya sudah mencerminkankan ketidak berdayaan Bung karno untuk mengendalikan situasi. Salah satu anggota menteri adalah seorang militer yang dikenal sebagai tokoh pemimpin copet di Jakarta.

Kabinet yang nama resminya disebut sebagai Kabinet Gotongroyong yang lebih disempurnakan lagi itu ditolak kehadirannya oleh para mahasiswa, pelajar dan berbagai kelompok masyarakat yang lain. Salah satu upaya penolakan itu adalah berupa unjuk rasa pada hari itu. Mereka yang berunjuk rasa bukan hanya mahasiswa dan pelajar dari atau di Jakarta, melainkan dari mana-mana.

Mereka sudah sejak subuh berbondong-bondong dan bergerombol-gerombol menuju lapangan Gambir atau Monas. Jaket warna warni yang memberikan gambaran puluhan universitas terwakili, kian lama kian ramai dan dinamis.  Warna kuning, merah, hijau, biru, orange, dan hijau memenuhi lapangan yang luasnya sekitar ratusan hektar itu. Mahasiswa dan pelajar melakukan aksi memacetkan lalu lintas. Ban mobil-mobil dikempeskan sehingga menteri-menteri  yang akan dilantik terhambat ke istana.

Pagi itu Arief Rahman Hakim bersama-sama ribuan demonstran mahasiswa dan pelajar telah berada di mulut Jalan Veteran 3 atau dulu disebut jalan segara, tepatnya  jalan yang menghubungkan Jalan Merdeka Utara dengan Jalan Veteran.  

Di  jalan Veteran 3  ini terletak Markas Resimen Cakrabirawa yaitu pasukan pengawal khusus Presiden. Sebagaimana lazimnya demonstrasi mahasiswa, mereka berteriak-teriak dan Arief Rahman Hakim lebih banyak diam dan mengamati tingkah laku rekan-rekan demonstran yang lain. 

Teriakan para demonstran  kadang-kadang disertai kata-kata ejekan yang mungkin terasa menyakitkan bagi yang menjadi sasaran. Pasukan Cakrabirawa yang bertugas berjaga-jaga tepat di seberang jalan, tidak tahan berdiam mendapatkan ejekan para demonstran.

Mereka mulai mengancamkan senjata mereka kepada para demonstran. Acaman ini tidak menakutkan mereka dan ejekan serta yel-yel terus dilontarkan. Karena tidak tahan tekanan maka beberapa anggota Pasukan Cakrabirawa melakukan peringatan tembakan keatas.

Keadaan ini membuat mahasiswa panik dan sebagian malah lebih menekan Pasukan Cakrabirawa sehingga beberapa dari antara anggota Pasukan Cakrabirawa mulai melakukan rentetan tembakan kearah para demonstran.

Hal ini membuat para mahasiswa semakin kacau dan panik. Para demonstran panik berlarian sambil berteriak menyerukan Allahu Akbar sambung menyambung. Pada waktu itulah Arief Rahman Hakim tertembak rentetan  peluru pasukan  Cakrabirawa secara brutal sehingga roboh berlumuran darah. Segera setalah kejadian itu para demonstran dan rekan-rekan mahasiswanya belum berani menolongnya.

Setelah rentetan tembakan berhenti barulah rekan-rekan mahasiswanya berani beranjak dan melakukan evakuasi tubuh Arief Rahman Hakim  mengerang terkulai dengan Jaket Kuning  bersimbah darah. Dalam perjalanan ke rumah sakit anak muda ini gugur dan syahid sebagai seorang martir dalam perjuangan rakyat menurunkan tirani penguasa di Indonesia.

Hari Jumat 25 Februari 1966, ribuan penduduk kota metropolitan Jakarta mengantarkan jenazah Arief Rahman Hakim, Pahlawan Ampera, ke pemakaman Blok P Kebayoran Baru. Jenazah Arief Rahman Hakim dilepas oleh Rektor UI dari Aula UI di Salemba, menuju tempat peristirahatannya yang terakhir dengan iringan mahasiswa dan pelajar yang mengantarkannya.

Meninggalnya Arief Rahman Hakim sebagai martir perjuangan mahasiswa  bersama seorang pelajar yang bernama Zubaedah membuat demonstrasi semakin panas. Mahasiswa dan pelajar dari seluruh pelosok Indonesia bergabung dan melakukan aksi demonstrasi mahasiswa untuk menuntut pembubaran PKI dan turunnya Bung Karno. Jaket Kuning yang bersimbah darah Arief Rahman Hakim dijadikan bendera Pataka simbol perjuangan dengan diarak bergerak keliling Jakarta Pusat  untuk membangkitkan semangat rakyat menurunkan Orde Lama. 

Demonsterasi mahasiswa pada hari itu telah memberi tekanan kepada Soekarno.  Tekanan yang terjadi berhasil membuat Soeharto memaksa Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret yang dikenal juga dengan Super Semar dan menjadi senjata untuk menjatuhkan bung Karno. Super Semar telah dijadikan legitimasi oleh Soeharto atas nama Presiden untuk membubarkan PKI dan melarang seluruh kegiatan PKI dan ormasnya sebagai partai terlarang untuk melakukan kegiatan di seluruh Indonesia.


Gugurnya Arief Rahman Hakim telah menjadikan dirinya sebagai tumbal perjuangan untuk menurunkan rejim Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno. Kematian Arief Rahman Hakim telah menjadikannya sebagai martir dan  simbol perjuangan bagi Angkatan Pemuda 66. Nurcholis Majid, waktu itu masih sebagai mahasiswa IAIN berseru dalam khotbah melepas jenazah Arif Rahman Hakim  bahwa Teladan yang syahid ini membuat kita semakin teguh melanjutkan perjuangan..


Sumber: http://redseahawk.blogspot.co.id/2012/08/ariefrahman-hakim-pahlawan-ampera-p.html?m=1

Bagikan

Jangan lewatkan

ARIF RAHMAN, MAHASISWA UI YANG TEWAS DITEMBAK SAAT DEMONSTRASI
4/ 5
Oleh